Aforisma VII

December 18, 2010

Cinta mengatasi segala masalah, membuka semua pintu yang tertutup.

~~~Syeikh Muzaffir~~~

18-12-2010

Aforisma VI

December 18, 2010

Seseorang bertanya kepada Rabi’ah, “Seperti apa cintamu pada Nabi?”
Ia menjawab, “Sungguh aku amat mencintainya, tapi Cinta pada Sang Khalik menjauhkanku dari cinta kepada makhluk-Nya.”

~~~Rabi’ah~~~

18-12-2010

aforisma V

December 18, 2010

Rabi’ah ditanya, “Apakah kau mencintai Allah?”
Ia menjawab, “Ya.”
“Apakah kau membenci Setan?”
Ia menjawab, “Tidak, cintaku kepada Allah tidak menyisakan waktu bagiku untuk membenci Setan.”

~~~Rabi’ah~~~

18-12-2010

Semesta Raya

December 14, 2010

Oleh: Pahrurroji M. Bukhori [fahraz@yahoo.com]

Dalam klasifikasi para ulama agung (the great scholars), tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. dibedakan menjadi dua kelompok utama. Yaitu, ayat-ayat Kauniyah (acquired signs) dan ayat-ayat Qur’aniyah (transmitted signs). Kedua kelompok ayat ini, satu sama lain saling melengkapi (complementary), tidak saling menegasikan. Dengan ungkapan lain, bisa dikatakan bahwa ayat-ayat Qur’aniyah merupakan petunjuk manual (manual book) dari cara kerja alam raya, sedangkan ayat-ayat Kauniyyah merupakan medan ekperimentasi dari segala informasi yang disampaikan oleh Alquran. Hal ini tampak jelas dalam berbagai keterangan yang disampaikan oleh Allah Swt, Sang Pemilik semesta.

Umpamanya dalam Q.S. Fushshilat ayat 53 dinyatakan bahwa “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Alquran itu benar…”. Dengan begitu, segala hal (everythings) yang ada dipermukaan langit-bumi pada dasarnya adalah wujud dan bukti kekuasaan Allah (manifestation of God), termasuk juga segala hal yang melekat pada diri manusia.

Bahkan jika ditelisik lebih mendalam lagi, dalam Alquran Surat Yunus ayat 5, dinyatakan bahwa, “Dia yang menjadikan matahari terang cemerlang, dan bulan bercahaya terang, dan ditetapkan-Nya waktu-waktunya, supaya kamu dapat mengetahui bilangan tahun dan perhitungan.”

Meskipun Alquran dengan sangat menyakinkan bisa dikatakan bukan merupakan buku ilmiah, juga bukan buku ilmu pengetahuan, namun Alquran tidaklah anti ilmu pengetahuan. Ayat di atas cukup menjadi gambaran akan hal tersebut. Bahkan Alquran sangat mendorong manusia untuk terus mau menggali segala rahasia Ilahi yang menjadi moda pendorong bekerjanya semesta raya.

Dengan demikian, perkembangan pesat dalam disiplin ilmu astronomi, astrologi, matematika, biologi, dan lain sebagainya, mendapatkan pembenaran Ilahi, sebab telah disediakan bahan material dan potensinya oleh Allah Swt. Berkaitan dengan disiplin ilmu matematika umpamanya, dengan gamblang Allah menuliskannya dalam Alquran surat As-Sajdah ayat 4 yang berbunyi, “Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya dalam enam hari..” Dalam ayat ini, ada hitungan matematis yang bisa disimpulkan untuk dipelajari secara lebih mendalam lagi.

Lebih jauh dari itu, bukan cuma dipersilahkan melakukan eksperimentasi di pelosok bumi saja, Allah pun mempersilahkan manusia untuk berkembang pesat hingga mampu “menembus’ langit dan bumi, sebagaimana yang telah dinyatakan di dalam QS. ar-Rahman ayat 33, “Wahai sekalian Jin dan manusia! Kalau kamu sanggup melintasi penjuru langit dan bumi, lintasilah! Kamu tiada akan sanggup melintasinya, melainkan dengan kekuasaan (pengetahuan).”

Dan semua itu hanya akan bisa diambil manfaatnya oleh orang-orang yang beriman, yaitu kalangan Ulul Abshar (orang-orang yang mempunyai matabatin suci), seperti yang dinyatakan dalam QS. Ali Imran ayat190-191, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan dalam pergantian siang dan malam, terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi Ulul Albab. Ialah orang-orang yang senantiasa mengingat Allah ketika berdiri dan duduk, serta ketika berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”

Dengan demikian, satu hal yang nyata bagi kita adalah kenyataan bahwa semesta raya merupakan medan kompetisi yang paling fair dan sportif bagi setiap individu untuk mendapatkan penilaian yang objektif dari Zat Yang Mahaadil (al-’Adl). Karenanya, tidak salah jika kemudian Nabi Muhammad Saw. bersabda kepada istrinya, Aisyah, “Pahalamu bergantung pada usaha maksimalmu [Ajruki ’ala qadr nashabiki].” Bahkan di lain kesempatan, begitu tegasnya Allah menyatakan adanya keharusan bagi setiap individu untuk saling berlomba dalam memaksimalkan jarak hidup yang pendek ini, juga ruang bumi Allah yang begitu luas ini dalam kebajikan, sebagaimana yang ada di dalam surat al-Baqarah ayat 148 dan al-Ma’idah ayat 48.

Karena itu, dengan sangat jitu Rasulullah Saw. memberikan panduan yang detail dalam rangka memberikan arahan yang komplit untuk menjadi seorang peserta ’lomba kehidupan’ yang sukses di dunia dan akhirat sebagai berikut ini, “Sesungguhnya Allah tidak akan melihat pada performance dan fisikalitas kalian, namun Ia akan melihat pada nilai ketulusan dan volume kebajikan kalian [Inna Allah laa yandzuru ila shuwarikum wa la ajsamikum, wa lakinna Allah yandzuru ila qulubikum wa a’maliku].” Inilah yang menjadi rambu-rambu lomba yang harus dicermati dengan seksama.

Wallah A’lam Bi Shawwab


Insan Cendekia Serpong, 26-07-2007

Akal-Nurani

December 14, 2010

Oleh: Pahrurroji M. Bukhori [fahraz@yahoo.com]

Hal yang paling istimewa dari manusia dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah lainnya adalah anugerah pemberian akal. Itulah, menurut para ulama, “amanat” yang menjadi pembeda paling utama antara makhluk yang berjenis manusia dengan lainnya. Bahkan dinyatakan oleh Allah Swt, sebagaimana yang terdapat di dalam Alquran surat al-Ahzab ayat 72, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, akan tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu, lantaran mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanat tersebut oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh [Inna ‘aradhna al-amanah ‘ala as-samawaat wa al-ardh wa al-jibal, fa abayna an yahmilnaha wa asyfaqna minha. Wa hamalaha al-insan. Innahu kana dzaluuma jahuula.]”

Di samping keterangan di atas, dalam al-Isra ayat 70, Allah telah menyebutkan dengan lebih gamblang bahwa, “Dan sungguh telah Kami muliakan manusia [Wa laqad karramna bani Adam]”. Karenanya, betapa sangat matangnya persiapan yang dilakukan oleh Allah dalam upaya meninggikan derajat kemanusiaan kita. Sampai-sampai Allah memuji manusia sebagai karya-Nya yang paling sempurna, “Sungguh telah kami ciptakan manusia dalam sebaik-baiknya rupa, lahir dan bathin. Lantas kami kembalikan mereka ke posisi yang paling rendah.” (laqad khalaqna al-insana fi ahsani taqwim. tsumma radadnahu asfala safilin) [Q.S at-Tin: 4-5].

Dengan begitu, secara potensial, dengan bekal anugerah amanat tersebut yang menjadi nilai tambahnya (add value), maka manusia akan bisa mendapatkan posisi yang jauh lebih tinggi dari makhluk manapun, hatta para malaikat. Akan tetapi, dalam kenyataannya, tidak semua manusia bisa tepat menggunakannya. Hal ini terjadi bukan semata lantaran kebodohan mereka, namun yang paling menentukan adalah ketidakbisaan mereka dalam memanfaatkannya. Mereka dikasih bekal, namun tidak dimakannya. Mereka dikasih amanat, namun tidak ditunaikannya. Mereka dikasih senjata, namun tidak dipergunakannya. Hal ini sebagaimana yang tercatat di dalam Alquran surat al-A’raf ayat 179 berikut ini, ”Dan niscaya akan Kami lemparkan ke dalam api neraka, kebanyakan jin dan manusia, di mana mereka mempunyai hati, namun tidak dipergunakan untuk bisa memahami. Mereka mempunyai mata, namun tidak dipergunakan untuk melihat [kebenaran]. Mereka mempunyai telinga, namun tidak dipergunakan untuk mendengarkan. Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat. Mereka adalah orang-orang yang lalai. [Wa laqad dzara’naa li jahannama katsira min al-jinn wa al-ins. Lahum qulub la yafqahuna biha, wa lahum a’yun la yubshiruna biha, wa lahum adzan la yasma’una biha. U’laika ka al-An’am bal hum adhall. Ula’ka hum al-ghafilun].

Dengan demikian, akal yang merupakan amanat ilahiah merupakan tali kendali bagi manusia dalam rangka menghadapi godaan syahwat nafsu. Dan tidak ada pertentangan antara akal dengan wahyu Allah, yaitu Alquran. Sebab keduanya sama-sama berasal dari Allah, yang satu sama lain saling menguatkan dan melengkapi. Bahkan tidak sedikit ayat-ayat Alquran dan Hadis Nabi yang menganjurkan kita untuk memanfaatkan dengan maksimal adanya anugerah akal ini. Misalnya anjuran agar kita bertazakur dan mengingat-ingat, seperti yang termuat dalam QS. al-Baqarah: 221; QS.Ibrahim: 25; Qs.al-Qashash: 43, 46, dan 51; QS. al-An’am: 126; QS. al-a’raf: 26 dan 130, dsb. Anjuran agar kita berfikir, sebagaimana yang termua dalam QS. al-A’raf: 176; QS. an-Nahl: 11, 44, dan 69; QS. al-Hasyr: 21; QS.ar-Rum: 8; dsb. Juga anjuran agar kita secara langsung memahami dan menyadari anugerah akal, sebagaimana yang terdapat dalam QS. al-Baqarah: 44 dan 76; QS.Ali Imran: 65; QS. al-An’am: 32; QS. al-A’raf: 169; QS. Yusuf: 109; QS. al-Mukminun: 80; dsb.

Semua ayat yang disebutkan diatas, mengacu pada satu titik, yaitu keharusan dan keniscayaan kita menggunakan akal dalam kehidupan, bahkan juga dalam memahami ajaran agama kita, sebagaimana sebuah keterangan yang dinisbatkan kepada Nabi, bahwa “Agama adalah akal. Tidak ada nilai manfaat beragama bagi orang yang tidak dapat memanfaatkan akalnya [ad-Din ’aql. La din li man la aqla lah]”

Dengan demikian, pada titik ini akal memainkan peranan yang signifikan dalam rangka melengkapi dan menjadikan sempurna pemahaman ajaran agama yang telah diwahyukan oleh Allah kepada Sang Penutup nabi (The seal of prophets), Muhammad Saw. Karenanya, tidaklah tepat sekali lagi, seandainya kita berpikiran adanya perbedaan dan bahkan pertentangan antara akal dengan wahyu. Sebab hal tersebut justru hanya akan menghabiskan energi kita semata, yang senyatanya memang tidak ada polemik dan pertentangan di antara keduanya. Semoga kita dapat mengharmoniskan keduanya dan memaksimalkan peranan dari masing-masingnya secara jitu. Sebab di situlah makna terdalam dari keberhasilan seorang individu dalam menunaikan amanat eksistensinya yang paling utama dan paling substansial.

Wallahu A’lam bi ash-Shawwab

Insan Cendekia Serpong, 26-07-2007

Insan Cendekia

December 14, 2010

Oleh: Pahrurroji M. Bukhori [fahraz@yahoo.com]

Jika berbicara tentang manusia paripurna (Insan kamil), yang harus dibicarakan adalah seorang individu yang mampu secara proporsional menghimpun di dalam dirinya tiga potensi manusia yang paling utama dan mendasar. Yaitu, orang yang kuat kadar keimanan dan kepercayaannya, yang tinggi sikap kepasrahan dan ketundukannya, serta yang elok perilaku kebajikan dan keluhuran akhlaknya. Inilah tiga hal paling prinsipil dari kategori manusia yang utama. Dalam bahasa yang sederhana, ditilik dari unsur lahir maupun batin, ditinjau dari aspek humanitas maupun spiritualitas, semua puncak dari kategori di atas terdapat dalam pribadi Nabi Muhammad Saw. Sebab, beliau adalah khatam an-nabiyyin (penutup para nabi).

Karena itu, merupakan sebuah keniscayaan manakala kita berkeinginan untuk masuk dalam kategori orang-orang paripurna untuk mengikuti dan meneladani pribadi Rasulullah Saw. Sebab hanya dengan itulah satu-satunya cara yang memungkinkan kita bisa menjadi insan cendekia. Bukankah sudah banyak keterangan dari Allah Swt. dan Rasululullah yang menjaminkan hal tersebut.

Umpamanya dalam Alquran surat Ali Imran ayat 31 yang berikut ini, ”Katakan (Muhammad), jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku. Niscaya Allah akan mencintai kalian, dan mengampuni semua dosa kalian. Dan Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang [Qul in kuntum tuhibbuna Allah, fa ittabi’uni. Yuhbibkum Allah wa yaghfir lakum zunubakum. Wa Allah ghafur rahim].” Dan sebagai garansi dari kualitas kepribadian Nabi Muhammad Saw, telah tercantum dalam surat al-Qalam ayat 4 berikut ini, ”Dan sungguh dirimu itu mempunyai akhlak yang amat luhur [Wa innaka la ’ala khuluq ’azhim].”

Dengan demikian, yang menjadi kemestian buat kita adalah menentukan langkah-langkah sistematis dalam rangka dan upaya meneladani Rasulullah Saw. Sebab, sekali lagi dinyatakan di sini adanya sebuah pernyataan yang demikian gamblang dari Allah Swt.tentang keharusan meneladani pribadi Sang Nabi (The Prophet), sebagaimana yang terdapat dalam Alquran surat al-Ahzab ayat 21, ”Sungguh ada pada diri Rasulullah itu teladan yang baik buat kalian semua, bagi orang-orang yang mengharapkan ridha Allah dan kebahagiaan hari akhir serta senantiasa berzikir kepada Allah [Laqad kana lakum fi rasulillah uswatun hasanah li man kana yarju Allah wa al-yaumil akhir wa zakara Allah katsira].”

Karenanya, untuk bisa meneladani pribadi Rasulullah Saw, yang pertama harus dilakukan adalah mengetahui tujuan utama dari pengutusan (al-bi’tsah) Muhammad Saw. sebagai rasul Allah. Dalam kaitan ini, jelas dinyatakan Rasulullah Saw, bahwa motif utama pengutusan beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia [Innama bu’itstu li utammima makarima al-akhlaq].” Untuk bisa menunaikan visi dan misi ini, maka Rasulullah dibekali metodologi yang tepat oleh Allah Swt, dengan moda ajaran agama yang amat cenderung pada fitrah dan nurani asali manusia, serta penuh dengan sikap toleransi [Innama bu’itstu bi al-hanafiah as-samhah]. Bahkan di dalam Alquran surat al-Anbiya ayat 107, dengan amat gamblang Allah menyatakan bahwa tujuan pengutusan Nabi Muhammad adalah untuk menjadi rahmat bagi semesta raya [Wa maa arsalnaaka illa rahmatan li al-’alamin].

Lebih dari itu, yang harus dilakukan berikutnya adalah mendalami makna yang terdalam dari ajaran agama Islam. Ajaran agama Islam itu sendiri, sebagaimana yang telah dijelaskan di awal, mencakup tiga komponen yang utama. Yaitu, iman, islam, dan ihsan, sebagaimana hadis yang disampaikan Bukhori-Muslim dari Umar Ibn Khattab.

Secara singkat, makna keimanan seorang individu terwujud dalam pemahaman yang komprehensif tentang Allah, dalam makna keagungan dan keindahan [al-jalal wa al-jamal], serta keabsolutan-Nya; pemahaman yang tepat tentang posisi dan peranan para malaikat; pemahaman yang akurat tentang muatan berbagai kitab yang diturunkan oleh Allah; pemahaman yang laik tentang fungsi dan kedudukan para utusan Allah; rasa kepercayaan yang mendalam tentang dahsyatnya hari akhir dan adanya perhitungan yang tidak akan meleset; serta ketentuan takdir bagi segala makhluk.

Sementara itu, makna keislaman seorang individu terwujudkan dalam aksi dan pemahamannya yang tulus dan penuh totalitas dalam penyaksian dirinya bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya; mendirikan shalat yang dapat berimplikasi pada kesalehan sosial; mengeluarkan zakat pada semua pihak yang berhak; menunaikan puasa dalam makna yang paling subtil; serta menjalankan ibadah haji, sebagai kombinasi tertinggi dari ibadah kemanusiaan. Dan makna dari ihsan yang sejati adalah kesadaran diri dan jiwa setiap individu akan pengawasan (al-muraqabah) yang tiada akan pernah terputus dari Sang Mahatahu [al-khabir], baik dalam bingkai ibadah maupun interaksi sosial, dengan sebuah keyakinan akan ’penglihatan’ dari Sang Maha pencipta [An ta’buda Allah ka annaka tarahu. Fa in lam tarahu, fa innahu yaraka].

Wallah A’lam bi ash-Shawwab

Insan Cendekia Serpong, 11-12-2008

Aforisma IV

December 9, 2010

Seorang raja lalim bertanya kepada seorang saleh mengenai amal ibadah yang paling baik. Orang yang ditanya menjawab, “yang terbaik untuk Paduka adalah tidur serengah hari, agar tidak menyakiti rakyat untuk sementara.”

~~~Sa’di~~~